The Leiden University

Berada di antara dua raksasa kosmopolis Amsterdam dan metropolis Den Haag dan pelabuhan Rotterdam, kampung Leiden yang mungil menyempil di sudutnya, seperti bocah kecil pemalu di antara hiruk pikuk orang dewasa yang sedang sibuk beraktivitas.

Kalau saja tidak ada Universitas Leiden, kota kecil ini hanya akan menjadi sekadar kampung kecil. Yang meski ada dalam peta, dan seperti kota mana pun di Belanda tentu punya stasiun kereta – hanya akan dilewati begitu saja oleh pelaju, dan mampir kalau sekadar beli kopi dan lanjut perjalanan.

Beruntunglah warga Leiden (disebut Leidenaar) yang berhasil menghadang gerak pasukan Spanyol tahun 1574, memilih dibuatkan Universitas sebagai hadiah dari Raja, daripada dibebaskan pajaknya selama setahun untuk jasa mereka itu.

Tapi ini bukan tanpa komplikasi pada awalnya. Meski menjadi tempat di mana akan dibangun universitas pertama di seantero negeri, Leiden tidak memiliki sumber daya manusianya sendiri. Yang harus diisi dari kota-kota besar lain, seperti Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, dll, yang sudah lebih dulu berkembang.

Akibatmya banyak pengajar dan staf pendukung universitas adalah bukan orang Leiden sendiri, yang belum siap mengisi kerja sebuah lembaga kompleks seperti sebuah universitas. Konon kabarnya, bahkan sampai hari ini, para Leidenaar masih bukan bagian inti dari organisasi universitas ini.

Menjadikan Leiden sebuah situs unik di mana seperti ada dua dunia dengan dinamikanya sendiri: para Leidenaar penduduk asli Leiden, kebanyakan petani; dan para pengajar dan staf pendukung plus mahasiswa dan peneliti dari berbagai negeri, yang bekerja dan belajar di Universitas Leiden.

Didirikan tahun 1575, Universitas Leiden menjadi universitas tertua di Belanda, yang berhasil membangun reputasinya yang istimewa di berbagai bidang kunci. Beberapa peraih Nobel Fisika, seperti Christiaan Huygens dan Albert Einstein, pernah bekerja di sini.

Didirikan tahun 1575, Universitas Leiden menjadi universitas tertua di Belanda, yang berhasil membangun reputasinya yang istimewa di berbagai bidang kunci. Beberapa peraih Nobel Fisika, seperti Christiaan Huygens dan Albert Einstein, pernah bekerja di sini.

Juga filosof hukum Hugo de Groot yang meletakkan dasar hukum internasional sekarang, atau Snouck Hurgronje sang Orientalis penasehat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda, atau Cornelis van Vollenhoven “bapak hukum adat” Nusantara, mereka bersekolah dan menyusun warisan ilmunya di Universitas Leiden.

Penelitian tentang virus corona yang berasal dari hewan liar yang bisa berdampak pada manusia adalah penelitian sudah lama dan panjang di Universitas Leiden, meski hanya dikenal sebagian orang sebagai sakit flu biasa, atau menjadi sangat terkenal seperti covid-19 yang menjadi pandemi sekarang.

Rembrandt Harmenszoon van Rijn, pelukis Baroque paling terkenal untuk lukisan potret dan penutur kisah melalui lukisan dilahirkan di Leiden, dan museumnya pun sekarang ada di sana.

Berbagi tempat dengan Museum Etnologi terbesar di Belanda, mungkin juga dunia, yang menyimpan koleksi budaya dari berbagai suku bangsa di dunia, yang gratis biaya masuknya saban Rabu – saya tahu karena ini waktu rutin saya kunjungan kalau pas lagi kuliah di Leiden.

Sebagai seorang alumni dari salah satu sekolah termahal di Belanda ini, apa yang paling mengesankan bagi saya?

Mungkin bukan sekadar soal mahalnya itu, yang memang berjalan seiring dengan kualitas dan fasilitas belajarnya yang super, meski untuk saya pribadi tidak terlalu terasa karena saya dulu dapat beasiswa untuk biaya hidup, dan kuliah S3 (dulu) masih gratis.

Tetapi yang paling mengesankan bagi saya tentang Leiden adalah universalitas dari Leiden itu sendiri. Bukan melulu Universitas Leiden, tetapi terutama universalitas (dengan huruf “u” kecil) dari Leiden.

Kesegalamacaman dari Leiden, dengan segala romantisme dan kontradiksinya, antara lukisan dan puisi (ada 110 puisi ditulis tangan di tembok-tembok rumah warga di seantero Leiden), antara sebuah sekolah sangat terkenal dengan pengajar dan staf pendukung sangat berkualitas, tepat di tengah-tengah komunitas Leidenaar yang (sering) tidak dikenal sering terlupakan.

Leiden, termasuk universitasnya, termasuk sungai-kanalnya, termasuk jalur sepedanya, termasuk museumnya, termasuk Leidenaar yang terutama senantiasa mengingatkan saya tentang konsep “kampus seperti menara gading”.

Semuanya itu membuat Leiden unik dan berkarakter, dan karenanya mudah untuk jatuh hati padanya. Darinya saya belajar, darinya saya bekerja sekarang. Padanya suatu saat nanti saya ingin berkunjung lagi, belajar lagi.

Oleh: Dr. Surya Tjandra, Ph.D

#ikalitalkshow2020

#atrbpn2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *